Sumber: Kompas, Sabtu, 7 Juni 2008 | 01:13 WIB
Jakarta, Kompas – PT Pertamina mengaku kewalahan memenuhi pasokan elpiji untuk masyarakat. Alasannya, selain infrastruktur terbatas, Pertamina juga masih menanggung rugi dari bisnis elpiji dan lebih fokus menyiapkan pendistribusian elpiji yang disubsidi. Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal mengemukakan hal itu di Jakarta, Jumat (6/6). Ia menjelaskan, sejak program konversi elpiji dilakukan, terjadi peningkatan konsumsi elpiji dalam kemasan 12 kg.
”Banyak usaha kecil dan menengah yang lebih memilih memakai elpiji 12 kg. Namun, karena Pertamina masih menanggung rugi dari bisnis elpiji 12 kg, ya suplainya tidak ditambah, akhirnya terjadi kekurangan,” kata Faisal. Konsumsi elpiji untuk rumah tangga umum rata-rata 1,1 juta ton per tahun, dengan jumlah tabung 12 kg yang beredar mencapai 15 juta buah.
Seiring dengan program konversi dari minyak tanah ke elpiji, tahun ini diperkirakan kebutuhan elpiji meningkat 400.000 ton. Kebutuhan tabung 3 kg sebanyak 6 juta unit.
Menurut Faisal, infrastruktur penyimpanan dan pendistribusian elpiji, baik untuk tabung 12 kg maupun 3 kg, tidak memadai.
Bisnis elpiji 12 kg adalah bisnis terbuka. Dengan demikian, badan usaha lain bisa masuk. ”Masalahnya sampai sekarang tata niaga elpiji belum ada,” ujarnya.
Pertamina menyiapkan konsep pendistribusian elpiji untuk rumah tangga menengah atas dengan harga lebih mahal, tetapi pelayanan lebih baik. Menurut GM Gas Domestik Pertamina Endang Sri, konsumen bisa memesan dan membayar melalui anjungan tunai mandiri.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari menjelaskan, semua pabrik tabung yang sebelumnya menyuplai tabung elpiji 12 kg untuk Pertamina kini beralih memproduksi tabung elpiji 3 kg.
Ansari meyakini, industri bisa didorong untuk memproduksi tabung elpiji 12 kg jika ada hitungan skala ekonomi yang jelas.
Namun, harus ada kepastian penyerapan hasil produksi. ”Pertamina harus menegaskan berapa kebutuhannya dan sampai tahun berapa produksi bisa diserap,” tuturnya. (DOT/DAY